Selasa, 01 Juni 2010

RANI DALAM DIAMNYA



Oleh: Masnawati M (Alumni TOR FLP Unhas)
Menikmati suasana sore di tepi sebuah danau. Di bawa pohon yang rindang. Aku masih diselimuti awan kebingungan. Untuk pertama kalinya aku bertemu lagi dengannya, sejak berthun tahun terpisah. Tapi tak seperti kebanyakan orang yang baru ketemu. Kami tidak berhamburan melepas rindu yang kami lakukan hanya saling menatap. Tak ada rangkaian kata yang keluar dari mulut kami. Bibir terkunci kami seperti tidak saling mengenal. Tapi sejak pertemuan kemarin sore, ia menjadi dingin kepadaku. Seperti es batu yang siap untuk dilelehkan. Kucoba menanyakan kepadanya apa yang terjadi. Tapi jawaban yang aku dapat hanya melihatnya terdiam menatapku dengan tatapan menghakimi.
Aku mengenlanya di sekolah dasar beberapa tahun yang lalu. Dia Rani sahabat kecilku yang paling kusayangi. Dia pindahan dari pulau Kalimantan. Kami di tempatkan di kelas yang sama dan duduk berdampingan. Hingga keakraban itu mulai mengikat hati kami. Sampai kemudian kami harus terpisahkan. Itu terjadi waktu kami kelas 5 SD. Dia tiba-tiba pergi. Pindah sekolah mengikuti ayahnya, tanpa pamit dan tanpa meninggalkan pesan sedikitpun.


Sejak saat itu, kami kehilangan komunikasi. Aku masih melanjutkan sekolahku, sampai di perguruan tinggi.
“ Ran, Halloo…” tiba-tiba Tari datang menghentakkan tangannya ke pundakku. Aku tersadar dari lamunanku. Pikiranku ternyata sudah jauh meninggalkan ragaku. Kubalas sapaan Tari dengan sesungging senyum. Tak perlu basa basi, tanpa disuruh duduk pun ia langsung duduk tepat di depanku.
“ Ada apa Nara, mukanya kok kisut kayak benang kusut sih?” katanya sambil mencubit gemas kedua pipiku.
“ Nggak ada apa-apa kok…Cuma pengen aaja menampakkan muka kisut kayak benang kusut” jawabku sekenanya sambil tertawa ringan.
“ Nara, masih masalah dengan Rani itu yah?” Tari ternyata mampu menebak apa yang sedang menari-nari di kepalaku. Masalah Rani aku memang pernah menceritaknnya pada Tari. Hanya kepadanya.
“ Kok tahu, tebakan kamu hebat juga yah” masih dengan nada bercanda.
“nggak usah dipikirlah. Percuma saja kan kalau cuma kamu aja yang mengingatnya, memikirkannya tapi dia tidak pernah mengingatmu. Merespon ucapanmu juga dia tidak sudi kan? yah sudahlah, cukup!” suara tadi melehkan mutiara dari sudut kelopak mataku.
Diam. Kami terdiam beberapa lama. Larut dalam pikiran masing-masing. Dan pikiranku masih berlari ke arah Rani. Entahlah dengan Tari. Aku tak tahu dimana pikiranya bermuara.
Kemarin adalah pertemuanku yang kedua kalinya dengannya. Semua terjadi secara kebetulan dan kemarin adalah puncak dari semua tanda Tanya yang masih menggelayatiku. Kebingunganku kembali menguasai pikiranku. Mengeja setiap sketsa yang pernah terjadi antara aku dan sahabat kecilku.
Sejak pertemuan kemarin, kami seperti tidak saling mengenal. Dia seperti menjelma menjadi manusia baru yang tak saling mengenal dengan masa lalunya. Mungkin ini juga salahku. Sejak pertemuan kami yang pertama di sebuah pusat pembelanjaan, kusodorkan pertanyaan demi pertanyaan kepadanya. Aku tak bermaksud membuatnya tersudut, tapi inilah bentuk rasa bahagiaku bisa bertemu dengan sahabat lamaku. Semua pertanyaaku dib alas dengan senyuman. Senyuman yang tak perenah aku lihat sebelumnhya. Manis tapi tersirat makna di baliknya. Dan aku tak mampu menerjemahkannya. Karena terburu-buru, kutinggalkan dia sendiri dan aku tak sempat mendengar penjelasannya. Kulambaikan tanganku padanya,
“ Sampai ketemu lain kali yah” sambil berlalu meninggalkannya sendiri. Aku tak berpikir untuk meminta nomor Hp atau alamatnya. Tapi sebelum aku tinggalkan, tanganya menyodorkan kepadu sebuah kartu nama.
“ Tar… kartu nama” ingatanku tiba-tiba tertuju pada sebuah kartu nama.
“ Kartu nama apaan?” Tari berbalik tidak mengerti dengan apa yang aku maksud.
“ Kemarin Rani menyodorkan sebuah kartu nama. Aku juga nggak tahu sih itu kartu nama siapa, tapi yang jelas itu bukan kartu nama ayahnya. Mungkin kita bisa menemukan jawab dari kartu nama ini” kamu maukan temani aku mencarinya?” nadaku sedikit memaksa.
“ Ya udah deh, aku temani. Biar semua jelas dan muka kisut kamu berubah.” Jawab Tari sambil keduanya beranjak meninggalkan danau tempatnya berbincang.
Menyusuri ibu kota dengan kendaraan motor. Meliuk kiri, meliuk kanan. Aku diliputi rasa penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi dengannya. Mungkinkah dia benar-benar amnesia. Kusingkirkan semua pikiran negatifku, kami sudah berada di depan rumah seorang yang tidak dikenal. Ku tekan bel pagarnya dari dalam rumah tampak seorang ibu paruh baya membuka pintu pagar. Mempersilahkan kami masuk dengan ramah.
“ Cari siapa Nak?” Tanya ibu itu sambil mempersilahkan kami duduk.
“ Bisa ketemu Rani ?” suaraku seperti timbul tenggelam menayakan kabar Rani.
“Iya sebentar saya panggilkan”
Tak beberapa lama Rani keluar dari kamar membawa bingkai yang kamipun tak tahu itu bingkai apa. Dia masih diam. Diam yang penuh misteri. Tapi sebuah gerakan tangan berusaha menguntai kalimat. Kalimat yang berusaha menjelaskan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi.

1 komentar:

arieska arief mengatakan...

ini baru bagus dari segi endingnya... ending gantung... misterius... paslah endingnya

Posting Komentar