Minggu, 04 Juli 2010

SENANDUNG CINTA UNTUK GADIS


OLEH: FEBRIANA WIDYANATA SUSILO
Sang surya kembali bersinar pagi ini, salah satu bintang terbesar di galaksi tempatku berpijak itu mulai menampakkan kekuasaannya lagi. Sinarnya menerpa wajahku dari balik jendela kamar. Aku mendesah dan berusaha membuka kelopak mata ini. Kemudian aku beranjak ke kamar mandi, tempat pertama yang aku kunjungi setiap hari. Kupandangi wajahku di cermin, kemudian membasuhnya. Sosok gadis itu kembali terlintas di pikiranku. Gadis yang telah menjadi sahabat terdekatku. Aneh memang, entah kenapa aku dan dia bisa seakrab ini. Aku mengenalnya sejak kelas 4 SD sedangkan dia kelas 2 SD. Ya selisih umur kami dua tahun. Dia adalah anak dari sahabat ibuku. Aku dan dia bersahabat kurang lebih sudah 15 tahun lamanya. Dia selalu memanggilku dengan panggilan Mas Adit, baginya panggilan itu terdengar lucu dan membuatnya geli.
Gadis manis yang penuh kelembutan dan kehangatan. Setiap orang yang melihat kedua matanya pasti akan jatuh hati. Bagiku dia adalah lentera kecil yang selalu menyemangati dan menuntunku untuk menggapai semua mimpi yang ingin ku torehkan. Rambutnya selalu berderai indah di balik bahunya. Ya dia memang bernama Gadis, Gadis Paramitha Drupadi. Namanya saja sudah mewakili keindahan yang dimilikinya. Dia bagaikan Dewi Drupadi, dewi yang setia mendampingi lima orang pandawa dalam kisah pewayangan Arjuna. Tuhan benar-benar menciptakannya sebagai gadis terindah menurutku, dan aku bahagia bisa mengenalnya.


Aku dan Gadis selalu berbagi kisah bersama, menangis dan tertawa. Kami bersahabat begitu tulus. Namun akhir-akhir ini aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Ada rasa bahagia yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku selalu tersenyum ketika bersamanya. Mungkin itulah makna kerinduan yang kini tengah kurasakan. Ah! Cinta, itulah makna cinta. Kuakui aku telah larut di dalamnya. Aku jatuh ke dalam cinta.
Hari ini aku akan bertemu dengan Dewi Drupadi itu lagi. Ibu tercinta telah menyiapkan sarapan untukku, putra tunggal yang dimilikinya. Aku segera menyantap nasi goreng buatan Ibu tanpa jeda dan menyeruput susu cokelat hangat. Aku sangat menyayangi Ibu. Apapun akan kulakukan untuknya.
“Dit, tadi Gadis telepon. Katanya minta dijemput sama kamu.” seru Ibu sambil menuangkan air putih ke dalam gelas dengan logat Jawanya yang kental. Ibu memang berasal dari Surabaya, sedangkan Ayahku memang berasal dari Makassar.
“Iya Bu, Adit sudah tau. Oia nasi goreng Ibu enak sekali, tapi ada kayaknya yang kurang.” Jawabku iseng.
“Kurang? Apanya yang kurang, Dit? Perasaan rasanya sudah pas kok sesuai selera kamu.” tanya Ibu dengan mimik keheranan sambil mencoba nasi goreng buatannya.
“Kurang banyak. Hahaha.” Aku tertawa lalu mengecup pipi Ibu.
Setelah puas menggoda Ibu dan pamit kepadanya, aku bergegas menuju rumah Gadis. Aku selalu menjemputnya dengan mobil sedan hitam milikku. Rasanya hari ini matahari bersinar secerah hatiku, karena aku akan bertemu dengan Dewi Drupadiku. Aku memanaskan mesin mobil dan kemudian melaju melewati gerbang pagar rumahku.
Akhirnya aku tiba di rumah Gadis. Dia sudah menungguku di kursi teras rumahnya, sedangkan Tante Sarah sedang menyiram bunga-bunga anggrek koleksinya. Gadis mengambil tasnya, kemudian berpamitan dengan Tante Sarah. Aku turun dari mobil dan menyapa Tante Sarah. Gadis berlari kecil ke arahku. Aku berpamitan dengan Tante Sarah. Kemudian mengikuti Gadis ke arah mobilku yang telah terparkir di depan pagarnya. Aku membuka pintu mobil untuknya. Kemudian mengendarai mobil itu melaju menuju kampus. Aku dan Gadis kuliah di tempat yang sama, yakni Fakultas Hukum sebuah universitas terkenal di Indonesia bagian timur. Tentunya aku lebih dulu menginjakkan kaki di kampus itu sedangkan Gadis adalah mahasiswa baru.
“Mas Adit kenal dengan Kak Satria?” tanya Gadis membuka percakapan kami hari ini.
“Iyalah kenal. Dia kan teman baikku. Emangnya kenapa?” jawabku balik bertanya padanya.
“Sepertinya dia orang yang pintar ya. Aku sampe kagum padanya, terlebih saat dia jadi pemateri dalam pelatihan kemarin.” jawabnya lagi sambil tersenyum padaku. Gadis bercerita panjang lebar tentang Satria, bahkan dia hafal setiap perkataan yang dilontarkan Satria saat pelatihan. Aku hanya menjawab dengan mengangguk. Aku merasa aneh, ketika dia terus menyebut nama Satria. Aku menjadi resah dan tidak tenang karena saat itu juga aku mulai menyadari satu hal, aku sadar Gadis tertarik pada Satria seperti yang tengah aku rasakan pada Gadis saat ini.
Satria memang orang yang sangat sempurna. Setiap orang, entah itu pria atau wanita akan merasa kagum padanya. Satria begitu berkharisma dengan pengetahuan yang dimilikinya, retorikanya juga begitu hebat. Dia memang berbakat jadi motivator bagi orang di sekitarnya, termasuk aku sahabatnya. Dan kini bertambah lagi satu orang yang akan menjadi anggota dari fans club Satria, orang yang berbicara di sampingku ini akan terdaftar menjadi anggotanya. Hanya saja aku tidak rela Gadis begitu mengaguminya. Padahal sudah sangat jelas, aku selalu ada di sampingnya saat dia membutuhkan seseorang. Apa dia tidak pernah merasakan arti kehadiranku di sampingnya? Hmmm.









♥♥♥
Satria dan Gadis kini mulai terlihat akrab, apalagi saat ini Satria telah menjadi ketua himpunan organisasi mahasiswa di jurusan kami. Gadis selalu menanyakan segala sesuatu kepada Satria, terutama masalah tugas mata kuliah yang tengah diambilnya. Aku merasa Gadis makin menjauh dariku. Dia begitu jauh, hingga aku tidak pernah melihat senyumnya lagi. Entah apa yang ada dalam benaknya hingga dia tidak pernah mau diantar jemput olehku lagi, katanya hal itu membuatnya berbeda dari maba yang lain. Dia tidak ingin bergantung padaku lagi sebagai seniornya. Aku hanya bisa mengambil sikap dengan menjauhinya dan melakukan apa yang diinginkannya itu.
Angin laut berdesir sore ini dan membelai wajahku dengan lembut, aku ingin sendiri dan merasakan buaiannya. Aku duduk termangu dalam lamunan di tepi Pantai Losari, hatiku terasa begitu kosong, kendati di sekelilingku sangat ramai oleh pengunjung lain di tempat itu. Semburat jingga di langit mulai tampak, mentari mulai kembali ke peraduan dengan anggunnya. Sayang seribu sayang, aku tidak bisa merasakan indahnya dengan sempurna karena kegalauan hati yang tengah kurasakan ini. Apakah ini yang harus kurasakan? Perih ini semakin mendera batinku, hingga aku tak kuasa menahannya lagi. Dunia terasa begitu mati, semangat hidupku seakan menghilang. Aku rindu pada Gadis, aku menyayanginya. Apa memang semuanya harus berakhir hingga di sini saja? Aku tidak bisa lagi menjadi sahabat kental bagi Gadis, aku tidak bisa berbagi kisah dengannya lagi. Dewi Drupadiku itu seakan menghilang di pelupuk mataku kini.
Aku tahu Gadis tengah merasakan indahnya kasmaran di usianya sekarang. Tapi ini terlalu kejam bagiku. Sepertinya kesabaranku tengah diuji kali ini. Aku hanya bisa memasrahkan semuanya pada Sang Pencipta. Apapun akan kulakukan untuk membuat Gadis selalu bahagia, walaupun aku harus menahan siksa batin karena mencintainya dan merasakan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan.


♥♥♥
Satria mengagetkan semua orang, dengan pengumuman akan dirinya. Ternyata minggu depan dia akan segera menikah dengan seorang gadis yang merupakan teman kecilnya dulu sewaktu masih sekolah. Dia begitu bahagia mengumumkan pernikahannya tersebut. Aku tidak tahu apakah aku harus bahagia atau sedih mendengar kabar tersebut.
Di satu pihak aku merasa lega karena Gadis tentu tidak akan bisa bersama Satria, tapi di pihak lain aku khawatir pada Gadis. Aku tidak tahu, apa dia mampu menerima kenyataan ini. Aku harus bertemu dengannya. Aku ingin berada di sampingnya, karena pasti dia membutuhkanku saat ini.
Aku segera menghubungi ponselnya, tapi nomornya tidak aktif. Aku berlari mencarinya di sekitar kampus, tapi tetap saja hasilnya nihil. Aku tidak menemukan Dewi Drupadi itu. Di mana gerangan dirinya berada sekarang? Aku yakin saat ini dia membutuhkanku. Aku tidak bisa membayangkan kesedihan di wajahnya. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Aku bergegas menuju ke rumahnya. Benar saja, aku menemukannya duduk melamun di sebuah ayunan kecil di depan rumahnya. Dia terlihat sangat redup tak bercahaya.
“Hai.” sapaku lembut. Sangat jelas kulihat matanya begitu sembab. Pasti semalam dia menangis. Aku bisa melihat lukanya dengan jelas, dia sangat terluka akan keadaan ini.
“Mas Adit?” tanyanya heran. Aku kemudian duduk di sampingnya.
“Kenapa kamu gak ke kampus? Kamu sakit ya?” tanyaku lagi. Dia hanya tersenyum redup, tanpa menjawab pertanyaanku.
“Aku tahu semuanya. Aku bisa merasakan apa yang tengah kamu rasakan saat ini, Dis. Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi satu hal yang aku tahu, Satria diciptakan memang bukan untuk Gadis. Jodohnya telah ditentukan.” seruku tanpa mempedulikan perasaan Gadis. Dia menundukkan kepalanya seakan tidak ingin mendengarku.
“Mungkin bagimu ini tidak adil. Tapi mungkin inilah yang terbaik. Terkadang ada alasan kenapa kita berjodoh dengan seseorang untuk beberapa saat dan tidak untuk waktu yang lain. Mungkin Satria tidak pernah menyadari kehadiranmu di hidupnya, tapi di luar sana pasti ada orang lain yang begitu menyadari arti kehadiranmu Gadis,” seruku meyakinkannya.
Gadis mendongak dan melihat ke arahku. Aku tahu apa yang aku katakan tadi sangat menyakiti hatinya. Tapi hanya itu yang bisa kulakukan untuk membuatnya kembali bercahaya seperti dahulu.
“Makasih Mas. Selama ini aku memang salah mengira. Aku pikir Kak Satria adalah orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidupku kelak. Tapi kepercayaan diri dan keegoisanku telah membuatku tenggelam hingga ke dasarnya. Apa yang Mas Adit katakan, memang sesuai untuk Gadis. Kak Satria memang bukan untuk Gadis. Aku tahu itu Mas. Karena itu, aku butuh waktu untuk mencari orang yang tepat sebagai pengganti Kak Satria di hatiku. Aku butuh waktu untuk bangkit kembali, luka ini harus segera disembuhkan. Aku akan melihat semuanya dengan lebih bijaksana lagi,” jawabnya begitu bijaksana.
“Iya. Aku yakin kamu pasti bisa. Mas Adit akan selalu ada untuk mendukung kamu. Kalau gitu, aku mau lihat kamu senyum dulu. Karena Gadis tanpa senyuman tidak akan mudah untuk bangkit kembali. Senyumanmu juga akan membuat hatiku jadi lega,” kataku lagi.
Gadis tersenyum. Tapi kali ini senyumnya tidak redup seperti tadi, melainkan sekarang cahayanya mulai cemerlang lagi seperti dulu. Gadis kemudian meminta maaf atas perbuatannya selama ini, dia tidak bermaksud menjauh dariku tapi itu memang karena dia merasa agak sedikit risih terus bergantung padaku, dia juga berjanji akan selalu menjadi sahabat setiaku. Kami kembali seperti sedia kala. Sahabat sejati yang sangat kental dan berbagi kisah bersama.



Sampai detik ini, aku belum pernah mengungkapkan perasaanku padanya. Karena bagiku bersama dan berada di samping Dewi Drupadi itu sudah sangat cukup. Namun, suatu hari nanti aku yakin dan mempercayakan dengan sepenuh hati kepada Tuhan, Gadis akan menyadari bahwa orang yang selama ini dia cari ternyata berada sangat dekat dengannya dan hingga saat itu tiba, aku berjanji pada diriku sendiri untuk secepat mungkin mengungkapkan apa yang tengah aku rasakan pada Gadis dan menjadikannya pendamping hidupku.
Aku juga berjanji akan terus membuat senyum di wajah Dewi Drupadiku itu. Inilah senandung cintaku yang akan aku nyanyikan untuk Gadis setiap hari hingga maut memisahkan, karena aku yakin dia tercipta hanya untukku dan aku telah menemukan tulang rusukku yang hilang dalam dirinya. Gadis adalah sahabat sekaligus pendamping hidupku kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar