Selasa, 07 Desember 2010

Surga Ibu

Oleh: Fitrawan Umar
(Pemenang Ketiga Lomba Cipta Cerpen Menpora 2010)
Sore itu, aku masih melihat ibu dengan senyum manis saat memainkan balida1. Mengurai benang, seutas demi seutas hingga membentuk sehelai kain Toraja.
Ayah datang dengan wajah mendung. Kemudian membawa hujan dan halilintar hingga aku tak tahu apa yang terjadi. Terakhir, kulihat ayah membawa tas besar beserta tabungan tempat ibu selalu menyimpan uang.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, ayah tak pernah lagi kulihat rupanya. Ibu selalu merenung dan sakit-sakitan, hingga berhenti bernafas.
Kutanya pada nenek, kenapa ibu berhenti bernafas.
“Apa ibu sudah mati, Nek?”
“Belum, ibu mu masih sakit.”
Hari-hari setelah itu kemudian aku dan nenek silih berganti memberi makan untuk ibu.
***

Baru saja aku datang, Matinggoro Tedong2 sudah dimulai saat matahari melintas ke barat. Tedong itu mengamuk uring-uringan. Sebilah parang panjang telah membilas lehernya yang gagah. Darah mengucur, membuatku mual memandang. Simbuang batu3 membisu sebagai saksi dinaikkannya jenazah Lie Ne Ne dari Tongkonan Tammuon4 ke tempat lebih tinggi, Tongkonan Barebatu5.
Aku berdiri bersama kerumunan orang. Dari jauh, wajah keluarga Lie Ne Ne menjadi sendu. Setelah tubuh tedong terpotong-potong, aku mendekat mengambil bagian dan membawanya pulang.
Di rumah, nenek sedang mempersiapkan makanan. Kuperlihatkan daging tedong tadi, dan menaruhnya di pinggir tungku.
“Ibu sudah makan, Nek?”
“Belum. Ini, kamu yang bawakan.”
Ibu terlihat ceria hari ini. Kuletakkan makanan di samping, lalu kucium keningnya.
“Ibu, makan, ya.”
Ibu terdiam.
“Kira-kira tedong sekarang harganya berapa, Fred?” Tanya nenek.
“Sekitar 15 jutaan.”
Aku tertegun. Kutahu maksud nenek. Akhirnya hembusan nafas panjang yang kemudian keluar dari kami berdua.
Esok hari, acara Rambu Solo6 Lie Ne Ne masih berlangsung. Terik matahari yang membulat tak mengganggu perhelatan ini.
Tampak laki-laki mengusung jenazah dengan duba-duba7. Bersama itu, di depan, kain merah lamba-lamba membentang dipegang para wanita. Di depan lagi, tedong berbaris-baris. Di depan lagi, pasukan tompi saratu, pembawa umbul-umbul. Dan yang paling di depan, orang-orang dengan memeluk gong besar. Semua berjalan beriringan menuju Rante8.
Aku bersama penonton lain mengikut di belakang. Namun, aku teringat ibu yang belum makan, siang ini.
Kutunaikan tugasku, memberi makan ibu, dan mencium keningnya. Dan, aku berbalik lagi menuju Rante.
***
Suatu pagi, Leo, teman mainku, bertanya.
“Kapan Rambu Solo untuk ibumu digelar?”
Aku belum mengerti waktu itu. “Acara apa itu?”
“Masa kamu tidak tahu, upacara untuk menghormati orang mati.”
“Ibuku belum mati! Ia masih sakit.” Aku tersinggung karena setiap hari, aku dan nenek, masih terus memberi ibu makan dan mengajaknya bicara selama hampir setahun. Walaupun setiap kali makanan itu tak pernah disentuh dan ibu terus membisu9.
“Ibumu memang masih sakit, tapi arwahnya akan gentayangan sebelum diantar ke Puyo10 lewat Rambu Solo.”
“Kau mengada-ada Leo.”
Aku meninggalkan Leo seketika dan segera menghadap nenek.
“Memang betul. Tapi, kita belum bisa menyanggupinya.”
Waktu itu, perasaanku tak karuan. Kulihat ibu terbujur kaku.
***
Di lapangan, sudah ramai orang-orang. Termasuk para bule yang masing-masing memegang kamera. Para penggiring jenazah telah sampai. Mereka jalan melambat. Kemudian menuju ke Lakkien11 untuk membaringkan jenazah.
Para keluarga Lie Ne Ne menaiki Lantang12 yang telah disediakan. Di sana, mereka menanti sanak saudara yang akan berkunjung. Aku sendiri masih berkumpul bersama penonton lain. Di tengah lapangan, delapan puluh lebih tedong, bersama simbuang batu, dan ratusan babi.
Aku menghitung tedong-tedong itu sambil membayangkan wajah ibu. Ah, andai keluarga Lie Ne Ne ini memberiku delapan ekor saja.
Satu dua sanak saudara keluarga Lie Ne Ne datang. Menjelang sore, digelar Mappasilaga Tedong13. Hiruk pikuk penonton terdengar ribut. Tedong saling bertumbuk kepala berganti-ganti. Para bule tadi mendekat menembakkan cahaya yang akan menyimpan momen itu ke dalam layar.
Aku pulang dengan sejumlah asa yang menggantung. Di dekat ibu, aku mengeluh. Menatap wajahnya membuat hati menjadi galau. Aku panjatkan permohonan kepada Pencipta agar waktu untuk ibu segera datang.
Nenek selalu menasehati agar aku mencari ayah. Katanya, ayah sudah sukses di tanah orang. Tapi kebencian yang menggantung di dada membuatku urung.
***
“Leo, bisa kau ceritakan apa itu Puyo?”
“Ibu saya pernah bilang, Puyo itu adalah tempat para arwah leluhur untuk menjalani kehidupan berikutnya. Dari sanalah nanti kita akan ke Surga.”
“Jadi, kita semua akan kembali hidup, begitu?”
“Iya. Karena kematian itu hanya fase dari kehidupan. Kita semua sebenarnya berasal dari langit, dan akan kembali ke sana. Tapi, kita baru bisa ke Puyo dan Surga kalau keluarga yang ditinggalkan mengadakan Rambu Solo.”
“Tapi bagaimana kalau kita tidak punya uang membiayai Rambu Solo?”
“Ya, pokoknya harus dilaksanakan.”
“Apa harus membeli tedong sebanyak itu?”
“Tedong itulah yang menjadi kendaraan dan bekal untuk hidup di Puyo.”
***
Mappasilaga tedong di Acara Lie Ne Ne sudah sangat ramai. Satu per satu tedong diujicobakan. Orang-orang bersorak ketika tanduk tedong saling bertemu. Dan sorakan semakin kencang di saat satu tedong memilih mengalah.
Para bule girangnya minta ampun. Mungkin acara seperti ini tak disaksikan di kampung halamannya. Aku sempat berpikir kenapa aku dan ibu tidak tinggal saja di kampung bule itu. Supaya ibu tak mengalami nasib seperti ini.
Aku berharap Pemilik Alam berkenan menyiapkan jalan ke Puyo buat ibu, sesegera mungkin.
***
Semua sanak saudara keluarga Lie Ne Ne yang selama ini ditunggu sudah datang di Rante. Jenazah Lie Ne Ne kemudian akan di bawa ke pemakaman. Kain merah membentang mengiringi proses Ma’palao14 itu.
Tiba-tiba, aku melihat ayah di antara kerumunan orang. Aku mengikutinya bersama rombongan menuju lumbung. Ayah bersama dengan seorang perempuan. Kuyakin istri barunya.
Dadaku terasa bergemuruh. Ingin segera berlari meluapkan dendam dan amarah pada lelaki bejat itu. Tapi aku mengingat Ibu. Arwah ibu mungkin masih di sini. Tersiksa bergentayangan, ingin diantar ke Puyo.
Ah! Apa ku pilih berdamai saja dengan ayah. Toh nyawa tak kembali seberapapun amarah menggelegar. Sisa ayah satu-satunya harapan untuk Rambu Solo Ibu. Kukira ia sudah memiliki harta banyak.
Ah! Tapi apa mungkin. Lelaki itu tak punya perasaan! Pergi meninggalkan ibu dan aku, anak satu-satunya.
“Leo, bagaimana menurutmu?”
“Coba bicarakan baik-baik saja dengan ayahmu.”
Iring-iringan jenazah terus berjalan. Aku beranikan diri mendekati ayah yang berada dalam rombongan keluarga Lie Ne Ne. Mungkin istrinya termasuk cucu atau keponakan turunan bangsawan itu.
“Ayah!”
Lelaki itu tersentak. Perempuan di dekatnya menatap tajam.
“Untuk apa kau ke mari?”
“Ayah, saya mohon perhatikan ibu.”
“Bukankah ibumu sudah meninggal?!”
“Tapi, acara Rambu Solo buat ibu belum dilaksanakan. Hanya satu permintaan saya dan nenek, bantu Rambu Solo ibu.”
“Ha.. Waktu ibumu hidup saja jarang aku perhatikan. Apalagi kalau sudah mati.”
“Ayah sama sekali tak pernah bertanggung jawab terhadap ibu!” Aku mulai berontak. Orang-orang di samping menoleh. Si perempuan dekat ayah terus bertanya-tanya. Aliran darahku mengalir kencang. Ingin mengamuk.
“Fred, apa kau pikir, aku mencari uang hanya untuk membiayai acara kematian ibumu? Lebih baik aku menghidupi orang hidup. Sana minggir!”
“Ayah brengsek!!”
Belum amarah ini terlampiaskan, orang-orang sudah menahanku.
“Singkirkan anak ini!!”
***
“Leo, kenapa jalan menuju Surga itu begitu sulit?”
“Karena Puang Matua15 hanya ingin melihat pengorbanan kita.”
Malam itu, aku kembali pulang memberi makan untuk ibu.
***
Makassar, 29 Juli 2010

Catatan:
1. Balida: Alat tenun tradisional Toraja
2. Matinggoro Tedong: Memotong kerbau
3. Simbuang batu: Batu untuk menambat kerbau
4. Tongkonan Tammuon: Tongkonan (rumah adat) pertama tempat jenazah berasal
5. Tongkonan Barebatu: Tongkonan yang berada di atas tingkat Tongkonan Tammuon
6. Rambu Solo: Upacara adat Toraja untuk proses penguburan jenazah.
7. Duba-duba: Semacam keranda jenazah
8. Rante: Lapangan tempat ritual Rambu Solo dilaksanakan
9. Rambu Solo merupakan ritual yang harus dilaksanakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Selama Rambu Solo belum digelar, maka orang yang meninggal dianggap ‘belum mati’ dan tidak boleh dikubur. Jenazah masih dianggap ‘sakit’, dan harus diperlakukan seperti orang hidup –diajak bicara, diberi makan, rokok, dll.
10. Puyo: Alam baka
11. Lakkien: Menara tempat disemayamkan jenazah saat prosesi berlangsung
12. Lantang: Rumah sementara yang dibuat dari kayu atau bamboo
13. Mappasilaga tedong: Adu kerbau
14. Ma’palao: Mengusung jenazah ke pemakaman
15. Puang Matua: Tuhan Pencipta

1 komentar:

arieska arief mengatakan...

kapan neh lombanya? kok aku gak tau hya...hehe... >.<
padahal aku si hantu lomba...

Posting Komentar